Pemkot Ternate Siapkan Tiga Puskesmas di BAHIM Terapkan Pola BLUD
PEMKOT TERNATE - Pemerintah Kota Ternate terus memperkuat upaya peningkatan kualitas dan p ...
PEMKOT TERNATE - Wali Kota Ternate, Dr. H. M. Tauhid Soleman, M.Si menjadi pemateri dalam Seminar Kebangsaan dalam rangka Peringatan Hari Santri Nasional tahun 2026 yang berlangsung di Aula Baabullah Kantor Wali Kota Ternate, Sabtu (23/10/2026).
Mengusung tema “Transformasi Pendidikan Karakter Berbasis Tauhid Menyongsong Indonesia Emas 2045”, Wali Kota Ternate, Dr. H. M. Tauhid Soleman, M.Si memaparkan pentingnya integrasi Triologi Pendidikan yang melibatkan rumah, sekolah atau pesantren, serta masjid dan masyarakat sebagai lingkungan pembentuk karakter generasi muda berbasis kearifan lokal.
Dalam pemaparannya, Wali Kota menjelaskan bahwa pembentukan karakter anak membutuhkan keterlibatan yang selaras dari ketiga lingkungan tersebut. Rumah menjadi fondasi penanaman kasih sayang, keteladanan, adab, disiplin, kebiasaan baik, dan komunikasi harian yang sehat. Sekolah atau pesantren berperan mengembangkan ilmu pengetahuan, nalar kritis, keterampilan, akhlak mulia, kemandirian, dan tanggung jawab. Sementara itu, masjid dan masyarakat menjadi ruang penguatan spiritual, persaudaraan, kepedulian sosial, literasi agama, serta pelayanan umat.
“Pendidikan tidak cukup berlangsung di satu lingkungan saja. Rumah, sekolah atau pesantren, dan masjid harus saling terhubung agar anak memperoleh pendidikan yang seimbang antara ilmu pengetahuan, akhlak, dan kepedulian sosial,” ujar Wali Kota.
Wali Kota menekankan empat prinsip dalam membangun integrasi tersebut, yakni menyampaikan pesan yang sama melalui keteladanan, mengutamakan kolaborasi daripada saling menyalahkan, menyediakan ruang yang aman dan inklusif bagi anak, serta menjaga keseimbangan antara ilmu pengetahuan, teknologi, agama, dan budaya.
Wali Kota juga menyoroti pentingnya menjadikan kearifan lokal sebagai bagian nyata dari proses pendidikan. Menurutnya, nilai budaya tidak cukup ditampilkan melalui simbol atau pakaian adat, tetapi perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
Di Kota Ternate dan Maluku Utara, nilai adat se atorang, penghormatan kepada orang tua dan guru, musyawarah, gotong royong, identitas maritim sebagai penjaga pesisir, serta sejarah rempah dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran anak. Penerapannya dapat dilakukan melalui pengalaman langsung, pelibatan tokoh adat, ulama, sejarawan, dan pemanfaatan sumber-sumber lokal yang tersedia di tengah masyarakat.
“Kearifan lokal harus menjadi bagian dari pembentukan perilaku anak, bukan sekadar pengetahuan tentang budaya. Nilai-nilai seperti menghormati orang tua dan guru, bermusyawarah, bergotong royong, serta memahami sejarah daerah perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Menghadapi perkembangan era digital, Wali Kota mengingatkan bahwa santri dan generasi muda perlu menjaga kedalaman ilmu dan akhlak sekaligus mampu beradaptasi dengan teknologi. Tantangan seperti distraksi digital, penyebaran informasi palsu atau hoaks, perundungan, dan kesenjangan antargenerasi perlu diatasi melalui budaya tabayun, penguatan literasi digital, serta penyediaan jalur perlindungan anak yang aman.
“Generasi muda harus mampu mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan akhlak dan jati dirinya. Kemampuan menyaring informasi, menghindari ujaran kebencian, dan mencegah perundungan menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan digital yang aman,” ungkapnya.
Untuk memastikan gagasan tersebut dapat diterapkan secara konkret, pemerintah bersama para pemangku kepentingan, orang tua, pendidik, dan pengurus masjid merumuskan Rencana Aksi 90 Hari. Tahap awal pada hari ke-1 hingga ke-15 difokuskan pada pemetaan kebutuhan anak dan potensi lokal. Tahapan berikutnya meliputi pelaksanaan program rutin dan proyek berbasis kearifan lokal, evaluasi berkala, serta upaya memastikan keberlanjutan program di setiap kelurahan dan lingkungan pendidikan.
Wali Kota menegaskan bahwa pelaksanaan rencana aksi tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh pihak agar penguatan karakter tidak berhenti sebagai wacana seremonial, tetapi menjadi bagian dari kegiatan pendidikan dan kehidupan bermasyarakat.
Menutup pemaparannya, Wali Kota menekankan bahwa pembentukan karakter generasi muda memerlukan sinergi antara keluarga, sekolah atau pesantren, serta masjid dan masyarakat. Ketiga lingkungan tersebut memiliki peran saling melengkapi dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan, mengembangkan ilmu pengetahuan, memperkuat keimanan, dan menumbuhkan kepedulian sosial. Melalui integrasi Triologi Pendidikan yang berlandaskan kearifan lokal, generasi muda diharapkan memiliki akhlak yang kuat, tetap berpegang pada nilai budaya daerah, serta mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. (Tim_IKP Diskominfo Ternate)
PEMKOT TERNATE - Pemerintah Kota Ternate terus memperkuat upaya peningkatan kualitas dan p ...
PEMKOT TERNATE - Wali Kota Ternate Dr. H. M. Tauhid Soleman, M.Si didampingi Wakil Wali Ko ...
PEMKOT TERNATE - Pemerintah Kota Ternate melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD ...
PEMKOT TERNATE - Pemerintah Kota Ternate meraih peringkat III dalam penilaian Skor Arsip A ...