#

Simposium Internasional JKPI XII di Kota Rempah Angkat Warisan Budaya sebagai Fondasi Masa Depan

PEMKOT TERNATE - Sejarah panjang Ternate sebagai bagian dari jalur perdagangan rempah menjadi salah satu pijakan dalam pembahasan masa depan kota-kota pusaka Indonesia. Gagasan tersebut mengemuka dalam Simposium Internasional Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) XII Tahun 2026 yang berlangsung di Gamalama Ballroom Bela Hotel, Kamis (27/8/2026).

Mengangkat tema “Warisan Budaya sebagai Fondasi Pembangunan Kota Masa Depan”, simposium mempertemukan pemerintah daerah, jejaring kota pusaka, kalangan kebudayaan, serta perwakilan dari sejumlah negara untuk membahas bagaimana warisan sejarah dan budaya dapat dikembangkan sebagai bagian dari pembangunan kota.

Wali Kota Ternate, Dr. H. M. Tauhid Soleman, M.Si., hadir sekaligus menjadi salah satu pembicara dalam simposium tersebut. Turut hadir Wakil Wali Kota Ternate Nasri Abubakar, Sekretaris Daerah Kota Ternate Dr. H. Rizal Marsaoly, S.E., M.M., unsur Forkopimda Kota Ternate, serta para peserta dan delegasi Rakernas JKPI XII.

Rangkaian simposium diawali dengan penampilan seni budaya Ternate dari Sanggar Kirana Art. Yang dilanjutkan dengan Keynote speech bertajuk “Warisan Budaya sebagai Pondasi Ekonomi Masa Depan” yang disampaikan Inspektur Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum, Dr. Dadang Rukmana, S.H., CES., DEA.

Dalam pemaparannya, Dr. Dadang menempatkan sejarah rempah Ternate sebagai salah satu modal penting untuk membangun hubungan antara kota pusaka di Indonesia dengan jejaring dunia.

Menurutnya, posisi Ternate sebagai wilayah yang memiliki sejarah panjang dalam jalur rempah memberikan peluang untuk memperluas kerja sama antarkota pusaka. Karena itu, Rakernas JKPI di Ternate diharapkan tidak berhenti sebagai forum pertemuan rutin, tetapi menghasilkan pola kerja sama baru yang dapat memperkuat jaringan kota pusaka.

“Rakernas JKPI di Ternate diharapkan menjadi momentum untuk melahirkan model kerja baru dalam membangun kerja sama antarkota pusaka Indonesia,” jelas Dr. Dadang

Dr. Dadang juga menguraikan sejumlah arah pengembangan JKPI, mulai dari menghubungkan kota-kota pusaka melalui jalur sejarah dan budaya, mengembangkan heritage sebagai produk yang membangun identitas bersama, hingga melahirkan produk unggulan berbasis pusaka.

Selain itu, JKPI didorong menjadi ruang pertukaran pengetahuan melalui berbagi ilmu, arsip, serta praktik terbaik antarkota. Warisan budaya juga dinilai perlu dikaitkan dengan UMKM, ekonomi kreatif, dan investasi budaya agar memiliki manfaat ekonomi yang lebih luas.

“JKPI perlu berkembang sebagai global heritage network yang membuka hubungan kota-kota pusaka Indonesia dengan dunia dan mengarah pada terbentuknya jaringan pusaka global,” katanya.

Dr. Dadang menilai Ternate memiliki posisi khusus dalam gagasan tersebut karena sejarah rempahnya telah menempatkan kota ini sebagai salah satu simpul hubungan Nusantara dengan dunia. Kota dan kabupaten, menurutnya, perlu ditempatkan sebagai simpul kekuatan, masyarakat sebagai pelaku utama, warisan budaya sebagai modal pembangunan, sementara dunia menjadi ruang kolaborasi.

“Paradigma pengelolaan pusaka perlu bergerak dari pelestarian bangunan menuju ekonomi pusaka, dari cerita lokal menuju narasi Indonesia, dan dari jaringan kota pusaka Indonesia menuju jaringan kota pusaka dunia. Dahulu, rempah Ternate telah menghubungkan Nusantara dengan dunia,” tegasnya.

Setelah keynote speech, simposium dilanjutkan dengan Panel Diskusi I bertajuk “Dutch Trading Post Heritage Cities and the Making of Global Maritime Networks”. Sesi ini menghadirkan Kumiko Sakamoto dari Hirado, Jepang, Rosli Bin Haji Nor dari Malaka, Malaysia, serta Prof. Ping Tsu dari Tainan, Taiwan. Panel membahas keterhubungan kota-kota pusaka yang memiliki sejarah perdagangan dan jejaring maritim, disertai sesi diskusi dan tanya jawab dengan peserta.

Pembahasan kemudian berlanjut melalui Panel Diskusi II dengan tema “Budaya sebagai Investasi Sosial dan Ekonomi”. Sesi tersebut menghadirkan Ananto Kusuma Seta, Ph.D., selaku Ketua Harian Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), Dr. Lodewijk Petram dari Amsterdam, Belanda, Arlita A. Jufra selaku Direktur Pemantauan, Evaluasi & Indikator (MEI) dan Laboratorium Index (INDEXLAB) D3 ICCN, serta Dr. (Cand.) Asfarinal, M.Si., Direktur Eksekutif JKPI.

Sementara itu, Wali Kota Ternate, Dr. H. M. Tauhid Soleman, M.Si turut menjadi salah satu pembicara dalam Panel Diskusi III yang mengangkat tema “Kota Pusaka dan Tantangan Pembangunan Kebudayaan”. Panel tersebut juga menghadirkan Wawan Harmawan, S.E., M.M., Wakil Wali Kota Yogyakarta, Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, serta Maulana Ibrahim, Ph.D. dari Ternate, Indonesia.

Dalam pemaparannya, Wali Kota Ternate menekankan posisi kebudayaan sebagai bagian penting dalam pembangunan daerah di tengah perkembangan globalisasi dan digitalisasi. Menurut Wali Kota Ternate, warisan budaya tidak hanya memiliki nilai sejarah dan identitas, tetapi juga dapat memberikan kontribusi terhadap perekonomian.

“Revitalisasi cagar budaya dapat menjadi strategi untuk meningkatkan PAD, sekaligus membuka kesempatan kerja dan mendorong pertumbuhan investasi,” ungkap Wali Kota Ternate.

Wali Kota menjelaskan, Pemerintah Kota Ternate terus menyusun berbagai kebijakan untuk mendorong kemajuan sektor kebudayaan. Salah satu langkahnya dilakukan melalui penggalian, inventarisasi, dan pengembangan objek-objek kebudayaan, termasuk cagar budaya yang direvitalisasi.

Objek tersebut selanjutnya diarahkan untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah dan wisata budaya yang dapat memperluas pemanfaatan warisan budaya sekaligus mendukung peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

“Salah satu langkah yang dilakukan adalah menggali, menginventarisasi, dan mengembangkan objek kebudayaan, termasuk cagar budaya yang telah direvitalisasi, agar dapat menjadi destinasi wisata sejarah dan wisata budaya yang memberikan manfaat bagi peningkatan PAD,” jelas Wali Kota Ternate.

Simposium Internasional JKPI XII di Ternate menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Rakernas XII JKPI yang mempertemukan berbagai perspektif mengenai masa depan kota pusaka. Pembahasan tidak hanya mencakup pelestarian sejarah dan budaya, tetapi juga pengembangan jejaring antarkota, pertukaran pengetahuan, investasi sosial dan ekonomi, hingga peluang membangun konektivitas kota pusaka Indonesia dengan jejaring global. (Tim_IKP Diskominfo Ternate)

Berita

Berita Lainnya

#

Rimo-Rimo dan Cita Rasa Rempah Ternate Hadir dalam Jamuan Makan Malam Kebudayaan JKPI XII

PEMKOT TERNATE - Jamuan makan malam kebudayaan menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Rapa ...

#

Wali Kota Ternate Tegaskan Ternate Episentrum Rempah Dunia

PEMKOT TERNATE - Wali Kota Ternate, Dr. H. M. Tauhid Soleman, M.Si., secara resmi membuka ...

#

Rakernas JKPI XII Hadirkan Masterclass Spice Heritage dan Gastronomi di Cengkeh Afo

PEMKOT TERNATE - Kekayaan rempah dan tradisi pangan Ternate menjadi salah satu fokus pembe ...

#

Masterclass Cultural Economy Angkat Potensi Benteng Oranje dalam Rakernas XII JKPI Ternate

PEMKOT TERNATE - Potensi Benteng Oranje sebagai kawasan bersejarah dan bagian dari jalur r ...